LAMPUNG SELATAN, Nusantara Media  – Dinamika vulkanik salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, Gunung Anak Krakatau (157 mdpl) yang berlokasi di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, kembali menjadi sorotan.

Berdasarkan laporan periodik terbaru pada Selasa, 30 Juni 2026, sepanjang pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, gunung api tersebut menunjukkan aktivitas yang mengindikasikan pergerakan magma di dekat permukaan, ditandai dengan pantauan visual berupa sinar api dari area kawah.

Dalam keterangan resminya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan rincian hasil pengamatan visual dan kegempaan yang terjadi secara fluktuatif. Pada periode waktu tersebut, kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau bervariasi mulai dari cerah, berawan, hingga mendung.

- Advertisement -

Angin dilaporkan bertiup lemah dengan arah menyebar ke utara, timur laut, barat, dan barat laut. Adapun suhu udara di lokasi tercatat pada kisaran 26,6 hingga 30,8 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban udara yang cukup tinggi, yakni sekitar 68 hingga 87 persen.

Secara visual, wujud gunung terlihat jelas meskipun sesekali tertutup kabut dengan tingkat ketebalan 0-III. Dari kawah aktifnya, teramati embusan asap yang berwarna putih, kelabu, hingga coklat dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal.

Asap tersebut membumbung mencapai ketinggian 10 hingga 150 meter di atas puncak kawah. Namun, hal yang paling menyita perhatian adalah saat malam hari tiba. Petugas pos pengamatan melaporkan kemunculan pendaran sinar api yang teramati sangat jelas bersumber dari pusat kawah.

Fenomena sinar api ini kerap menjadi penanda visual bahwa material magma vulkanik memiliki suhu tinggi dan berada sangat dekat dengan permukaan lubang kawah.

Tingginya aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau ini tidak hanya terekam melalui pandangan mata, tetapi juga tervalidasi oleh instrumen kegempaan (seismogram). Sepanjang periode 24 jam tersebut, instrumen mencatat adanya beberapa jenis gempa dangkal.

Tercatat terjadi 5 kali gempa Hembusan dengan amplitudo berkisar antara 3,1 hingga 4,7 milimeter dan durasi berkisar antara 11 hingga 35 detik.

Selain itu, terekam pula 7 kali gempa Low Frequency (frekuensi rendah) dengan amplitudo 2,7 hingga 27,7 milimeter berdurasi 8 hingga 20 detik, serta 3 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 4,1 hingga 5 milimeter.

Kondisi bawah permukaan gunung juga terus bergejolak tipis, terbukti dari terekamnya getaran Tremor Menerus (Microtremor) dengan amplitudo 0,5 hingga 4 milimeter, yang didominasi oleh amplitudo 1 milimeter.

Hal ini menunjukkan bahwa pelepasan gas maupun pergerakan fluida magma masih berlangsung intens di dalam perut Anak Krakatau.

Di sisi lain, parameter lingkungan sekitar seperti ombak laut di perairan Selat Sunda terpantau dalam kondisi tenang, yang tentu memberikan sedikit kelegaan bagi para nelayan yang berlayar jauh dari area bahaya.

Menyikapi perkembangan data seismik dan visual yang ada, pihak PVMBG menetapkan bahwa Tingkat Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih bertahan pada Level II atau Waspada.

Status ini mengindikasikan ancaman bahaya letusan freatik maupun magmatik ringan bisa terjadi secara tiba-tiba tanpa menunjukkan gejala pendahuluan yang ekstrem.

Oleh karena itu, PVMBG mengeluarkan peringatan keras dan rekomendasi resmi kepada seluruh lapisan publik.

Masyarakat setempat, pengunjung, wisatawan, dan khususnya para pendaki, dilarang keras untuk mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas apa pun di dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.

Langkah mitigasi ini sangat mutlak dipatuhi demi menghindari risiko jatuhan material pijar, paparan gas beracun, maupun hujan abu vulkanik pekat jika erupsi mendadak terjadi.

Warga diharapkan tetap tenang namun waspada, serta tidak mudah mempercayai informasi palsu atau hoaks yang tidak bersumber dari instansi berwenang.