Charles Leclerc memimpin sesi latihan bebas GP Bahrain di Sirkuit Sepang, Malaysia, namun bayang-bayang degradasi ban ekstrem mengancam strategi tim. Kembalinya F1 ke Malaysia setelah sembilan tahun absen menghadirkan tantangan unik: aspal kasar Sepang yang legendaris.

GP Bahrain harus digelar di Malaysia akibat perang di Timur Tengah, memaksa F1 beradaptasi dengan sirkuit yang minim data. Tidak ada balapan F1 modern di Sepang sejak 2017, sehingga tim harus mengandalkan data usang dan simulasi. Kondisi ini diperparah dengan karakter aspal Sepang yang kasar dan suhu panas menyengat.

Wakil Principal Mercedes, Bradley Lord, mengakui bahwa ban akan menjadi faktor penentu. "Ban mengalami kesulitan besar karena suhu sangat panas, overheat pada permukaan dan suhu bulk juga tinggi. Siapa pun yang mampu mengatasi tantangan ini akan sukses akhir pekan ini," ujarnya. Ia memprediksi strategi dua atau bahkan tiga pit stop akan menjadi norma.

- Advertisement -
Advertisement

Pendapat senada datang dari bos Ferrari, Fred Vasseur. Menurutnya, balapan akan sangat bergantung pada degradasi, berbeda dengan sirkuit seperti Madrid, Monza, atau Baku yang memiliki degradasi rendah. "Balapan akan fokus pada degradasi, dan kami harus fokus pada itu," tegasnya.

Leclerc, yang tercepat di sesi latihan, juga merasakan hal serupa. "Degradasi tinggi akan menjadi masalah besar karena ban tidak bertahan lama. Saya tidak berharap kondisi ini membaik signifikan sepanjang akhir pekan," kata pembalap Ferrari itu. Meski begitu, ia optimistis mobilnya kompetitif untuk balapan.

Baca Juga Carlos Sainz Terbuka Tambah Sprint F1, Minta Evaluasi

Kondisi cuaca di Malaysia yang tidak menentu menambah kompleksitas. Meski FP1 dan FP2 kering, hujan diprediksi turun pada Sabtu dan Minggu. Tim harus siap dengan berbagai skenario, termasuk perubahan setup dan strategi ban.

Dengan aspal kasar, suhu tinggi, dan cuaca tak terduga, GP Bahrain di Sepang menjadi ujian berat bagi tim dan pembalap. Siapa yang paling mampu mengelola ban dan beradaptasi akan keluar sebagai pemenang.