Mantan pembalap Formula 1 asal Prancis, Rene Arnoux, melontarkan pujian tinggi kepada pemimpin klasemen sementara kejuaraan dunia, Kimi Antonelli. Pemuda berusia 20 tahun asal Italia tersebut dinilai mampu menunjukkan kedewasaan luar biasa dan ketenangan mental yang jarang dimiliki oleh seorang remaja di ajang balap jet darat paling bergengsi di dunia. Dalam wawancaranya dengan media Italia Gazzetta dello Sport, Arnoux mengaku sangat terkesan dengan cara sang pebalap mengelola tekanan besar di paruh kedua musim.

"Kimi adalah seseorang yang matang dan tenang, saya yakin dia akan menjaga kepalanya tetap dingin," ujar Arnoux mengenai performa konsisten sang bintang muda. "Dalam beberapa balapan terakhir, dia telah memfokuskan seluruh energinya pada kejuaraan dunia dan berhasil menghindari risiko-risiko yang tidak perlu. Dia harus terus melanjutkan pendekatan seperti itu untuk mengamankan gelar." Arnoux menambahkan bahwa di level Formula 1, bakat alam saja tidak pernah cukup untuk meraih kesuksesan jangka panjang, melainkan membutuhkan kombinasi kecerdasan taktis dan sedikit keberuntungan.

Lebih lanjut, mantan pebalap yang pernah meraih tujuh kemenangan Grand Prix tersebut menyoroti bagaimana Antonelli mampu mempertahankan performa papan atas meski Mercedes tidak lagi memiliki mobil yang mendominasi grid. Hampir seluruh balapan dilalui tanpa cela, terkecuali insiden kecil pada sesi kualifikasi di Azerbaijan. Konsistensi luar biasa ini membuat Antonelli kini bertransformasi menjadi pemimpin mutlak di garasi tim panah perak, sementara rekan setimnya yang lebih berpengalaman, George Russell, harus rela berada di posisi pendukung. Hubungan harmonis dengan prinsipal tim Toto Wolff, yang telah memantau perkembangannya sejak era karting, turut menjadi katalisator kesuksesan sang pebalap muda.

- Advertisement -
Advertisement

Selain membahas dominasi sang bintang muda, Arnoux juga memberikan pandangan tajam terkait situasi internal yang tengah melanda skuad Ferrari. Peraih peringkat ketiga klasemen musim 1983 itu merasa prihatin ketika melihat Lewis Hamilton harus meminta maaf secara terbuka kepada tim asal Maranello tersebut usai Grand Prix Singapura. Menurutnya, alih-alih pebalap yang disalahkan, kesalahan operasional yang berulang justru menjadi akar permasalahan utama tim Kuda Jingkrak sepanjang musim ini.

Baca Juga Yuki Tsunoda Sering Lupa Aktifkan SM di Monza, Ini Penyebabnya

"Masalah mendasar yang harus segera diselesaikan adalah bahwa di Maranello terlalu banyak kesalahan yang dibuat jika dibandingkan dengan tim-tim pesaing lainnya. Tahun ini Ferrari sebenarnya memiliki paket mobil yang kompetitif, tetapi mereka harus kehilangan banyak sekali poin penting akibat strategi yang buruk," tegas Arnoux mengkritik aspek manajerial tim asal Italia tersebut. Komentar ini menyoroti rapuhnya eksekusi strategi Ferrari yang sering kali merugikan peluang podium para pebalapnya di saat-saat krusial.

Tidak ketinggalan, Arnoux juga mengulas insiden sengit antara Max Verstappen dan Charles Leclerc sesaat setelah start di Sirkuit Marina Bay, Singapura. Menurut pengamatannya, manuver agresif adalah sebuah keniscayaan dalam perebutan posisi terdepan di sirkuit jalan raya yang terkenal sulit untuk melakukan aksi salip-menyalip. Peluang sekecil apapun harus dimanfaatkan dengan berani oleh seorang pebalap profesional jika ingin mengubah jalannya perlombaan secara drastis.