Pembalap Pramac Yamaha, Toprak Razgatlioglu, terpaksa mengakhiri penampilannya lebih awal dalam balapan Grand Prix Indonesia setelah hanya mampu bertahan selama delapan putaran saja. Keputusan berat ini diambil akibat pebalap asal Turki tersebut masih merasakan dampak parah dari kecelakaan hebat yang menimpanya pada sesi hari Sabtu di Sirkuit Mandalika. Akibat kondisi fisik yang belum pulih sepenuhnya, ia kini harus segera pulang ke negaranya untuk menjalani pemeriksaan resonansi magnetik guna memastikan apakah dirinya memerlukan tindakan operasi agar bisa tampil pada seri berikutnya di Australia.

Akhir pekan di Mandalika ini menjadi momen yang sangat sulit bagi sang juara dunia Superbike yang baru menjalani musim debutnya di ajang MotoGP bersama Pramac Yamaha. Petaka bermula pada sesi latihan hari Sabtu pagi ketika ia mengalami kecelakaan highside yang sangat keras di Tikungan 13, sebuah area cepat di sirkuit tersebut yang berujung pada dislokasi pada bahu kanannya. Meskipun baru saja mengalami insiden mengerikan, ia sempat mencoba kembali ke area pit menggunakan skuter dan bertekad melanjutkan sesi, namun tim medis dan krunya langsung melarangnya turun ke lintasan demi keselamatan. Meski demikian, ia tetap memaksakan diri mengikuti sesi kualifikasi dan menyelesaikan balapan Sprint di posisi ke-19.

Situasi semakin memburuk bagi sang debutan ketika pengawas balapan memberikan sanksi turun tiga posisi di grid akibat dinilai melaju terlalu lambat di jalur balap dan menghalangi pembalap lain seperti Marco Bezzecchi. Dengan absennya pembalap lain di grid, ia akhirnya harus memulai balapan utama dari posisi paling buncit di barisan belakang. Penderitaan di atas lintasan hanya bertahan hingga delapan putaran sebelum ia memutuskan untuk membawa motornya kembali ke garasi tim karena tubuhnya sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit dan kelelahan ekstrem.

- Advertisement -
Advertisement

Mengonfirmasi kondisi fisiknya kepada awak media termasuk Manuel Pecino, pebalap bernomor khas itu menegaskan bahwa kendala utama yang dihadapinya sama sekali bukan berasal dari performa mesin motornya. Masalah utamanya terletak pada kondisi bahu yang mengalami dislokasi sehari sebelumnya. Saat terbangun di pagi hari sebelum balapan utama, ia merasakan lonjakan rasa sakit yang luar biasa serta penurunan mobilitas lengan yang drastis meski telah mengonsumsi obat pereda nyeri. Hilangnya tenaga secara keseluruhan membuat dirinya tidak sanggup mengendalikan motor di titik-titik krusial lintasan.

Baca Juga Martin Masih Puncaki Klasemen MotoGP 2026 Usai Aragon

Rasa kehilangan tenaga tersebut sangat terasa ketika ia harus melakukan pengereman keras di ujung lintasan lurus serta saat melakukan transisi perubahan arah motor yang cepat. Setiap putaran yang dilaluinya terasa semakin berat dan menyiksa fisik terutama pada tikungan-tikungan krusial sirkuit Mandalika. Ia bahkan sempat merasakan sensasi yang mengkhawatirkan di bagian persendian bahunya setiap kali mencoba menggerakkan lengan untuk mengendalikan kuda besinya di tikungan cepat.

Sebelum mengambil keputusan untuk masuk ke dalam garasi, ia sempat berdiskusi secara terbuka dengan para petinggi krunya mengenai kondisi fisiknya yang memburuk. Tim memberikan kebebasan penuh kepadanya untuk memilih apakah ingin melanjutkan balapan atau berhenti lebih awal demi keamanan. Ia menegaskan bahwa keputusannya untuk tetap turun ke lintasan didasari oleh rasa tanggung jawab profesional terhadap kerja keras seluruh anggota tim yang sudah mengerahkan usaha maksimal sepanjang akhir pekan ini di Indonesia.