Aksi luar biasa ditunjukkan oleh Raul Fernandez pada balapan Grand Prix Indonesia di Sirkuit Mandalika. Pembalap tim Trackhouse Aprilia tersebut sukses menyegel posisi kedua meski harus menahan rasa sakit yang luar biasa akibat mengalami cedera dua jari patah yang didapatkannya pada sesi hari Sabtu sebelumnya.

Awalnya, pemeriksaan pascalomba sprint memperlihatkan adanya satu fraktur pada jari sang pembalap asal Spanyol tersebut. Namun, situasi terbukti jauh lebih pelak ketika pemeriksaan lanjutan pada Minggu pagi mengungkap adanya patah tulang kedua. Masalah terbesar bagi Fernandez adalah jari telunjuk tangan kanannya yang mengalami cedera, padahal jari tersebut merupakan tumpuan utamanya saat melakukan pengereman motor balap MotoGP.

Demi bisa turun ke lintasan utama, kerja sama intensif langsung dilakukan bersama kru Trackhouse Aprilia untuk memodifikasi posisi tuas rem agar ia dapat mengoperasikannya menggunakan jari tengah. Penyesuaian teknis kilat ini menjadi satu-satunya jalan keluar agar sang pembalap tetap kompetitif di tengah tantangan fisik yang sangat berat sepanjang balapan.

- Advertisement -
Advertisement

Sesudah balapan usai, Fernandez tidak bisa menyembunyikan rasa tidak percaya atas pencapaian sensasional yang baru saja ia ukir di hadapan publik internasional. Ia bahkan secara terbuka melontarkan kebingungannya sendiri ketika ditanya bagaimana cara ia melewati siksaan fisik tersebut di atas motor.

"Saya tidak tahu! Pagi ini ketika saya bangun, saya merasa sangat buruk dengan jari saya. Masalahnya bukan hanya rasa sakit, tetapi jari yang patah adalah jari yang biasa saya gunakan untuk mengerem," ujar Fernandez mengenang perjuangan beratnya.

Baca Juga Martin Sebut Pimpinan Klasemen MotoGP Bukan Prioritas Jelang Misano

Ia menambahkan bahwa penyesuaian teknis mendadak membuat seluruh referensi balapannya selama akhir pekan mendadak hancur dan harus dimulai dari nol. Cara mengambil titik pengereman hingga teknik memasuki tikungan harus diubah total dalam waktu singkat saat sesi pemanasan.

"Bagian terburuknya adalah referensi yang saya miliki selama akhir pekan benar-benar nol karena semuanya dimulai dari awal. Setelah 13 hingga 14 lap, saya hampir hancur. Rasanya sangat menyakitkan dan menjaga fokus pada setang tanpa membuat kesalahan adalah hal yang luar biasa sulit," tambahnya.

Keberhasilan luar biasa ini tidak lepas dari peran krusial tim medis kejuaraan dunia. Fernandez memberikan apresiasi tinggi kepada Dr Angel Charte selaku Direktur Medis MotoGP beserta seluruh staf klinik yang membantunya merawat cedera tersebut dengan balutan khusus agar posisi jarinya tetap stabil di setang.