Oscar Piastri kembali menjadi sorotan setelah melontarkan komentar bernada sindiran terkait regulasi Formula 1 2026. Dalam sesi jumpa pers jelang GP Bahrain, pembalap McLaren itu mengungkapkan tantangan adaptasi dengan mobil dan power unit generasi baru, yang ia nilai memiliki sistem pembelajaran mandiri yang kompleks.

Pernyataan Piastri muncul ketika ia ditanya mengenai persiapan menghadapi sirkuit Sepang yang kembali ke kalender F1 musim 2026 setelah absen hampir satu dekade. Sebagai pembalap yang belum pernah berlaga di sana, ia mengandalkan simulator untuk mempelajari karakter trek. Namun, ia menyoroti keterbatasan simulator dalam menghadapi regulasi teknis anyar.

"Dalam hal kerja sim, itu jumlah yang normal. Bagi saya, sim membantu mengidentifikasi titik pengereman, gigi yang digunakan, seberapa cepat Anda bisa melaju, tetapi ketika masuk ke detail yang lebih halus, terutama dengan mobil dan power unit tahun ini, itu menjadi sangat menantang," ujar Piastri. Ia menambahkan bahwa ada titik di mana simulator tidak lagi memberikan manfaat signifikan.

- Advertisement -
Advertisement

Komentar tersebut memicu reaksi dari para penggemar, yang menganggap Piastri secara halus mengkritik kompleksitas regulasi 2026. Beberapa bahkan mengaitkannya dengan pernyataan legendaris Niki Lauda bahwa "monyet pun bisa mengendarai mobil F1 modern", yang kemudian dibahas dalam konferensi pers Abu Dhabi 2014 bersama Sebastian Vettel dan Nico Rosberg.

Ketika ditanya berapa lap yang dibutuhkan untuk merasa nyaman di trek baru, Piastri menjawab, "Saya pikir ini semua tergantung bagaimana monyet itu dibesarkan saat ini. Sejujurnya, mobil-mobil ini butuh sekitar 10 lap untuk mempelajari ke mana mereka pergi. Jadi, mungkin power unit yang akan mencoba mempelajari berbagai hal setelah saya."

Baca Juga Red Bull Tak Punya Pace untuk Podium GP Belanda, Verstappen Tetap Andalkan Crash?

Pernyataan itu sontak menimbulkan pertanyaan: apakah Piastri merujuk pada sistem kecerdasan buatan yang tertanam dalam power unit 2026? Regulasi 2026 memang menghadirkan perubahan besar, dengan power unit yang mengandalkan mesin V6 turbo hybrid dan komponen listrik yang lebih dominan. Sistem manajemen energi yang canggih memungkinkan mobil untuk "belajar" dan menyesuaikan diri secara real-time, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bagi McLaren, komentar Piastri bisa menjadi cerminan tantangan yang akan dihadapi tim dalam beradaptasi dengan regulasi baru. Tim yang berbasis di Woking itu harus memastikan pembalapnya dapat memahami dan memaksimalkan potensi mobil, terutama dalam hal manajemen energi dan strategi balapan. Jika tidak, mereka berisiko tertinggal dari rival seperti Red Bull dan Ferrari yang juga gencar mengembangkan teknologi serupa.

Hingga saat ini, Piastri dan rekan setimnya, Lando Norris, terus mengasah kemampuan melalui simulator. Namun, seperti yang ditegaskan Piastri, simulator bukanlah segalanya. Di atas lintasan, pembalap harus berhadapan dengan dinamika nyata, termasuk perubahan grip dan beban bahan bakar yang menuntut adaptasi konstan. Regulasi 2026, dengan segala kerumitannya, tampaknya akan menjadi ujian tersendiri bagi para pembalap dan tim.