Max Verstappen berhasil memutus rekor buruknya dengan meraih kemenangan perdana di Grand Prix Singapura, sementara Ferrari justru harus menelan pil pahit akibat blunder strategi yang menghancurkan peluang podium ganda mereka di Marina Bay. Akhir pekan yang seharusnya menjadi pesta bagi skuad Maranello berubah menjadi bencana manajerial, terutama setelah mereka gagal mengoptimalkan potensi kecepatan para pembalapnya di atas lintasan jalan raya yang menuntut ketepatan tinggi tersebut.

Pemenang balapan sprint hari Sabtu, Verstappen, tampil sebagai yang terbaik sepanjang akhir pekan. Ia mampu meredam tekanan awal dari Charles Leclerc saat start dan fase pembuka balapan. Pembalap asal Belanda itu kemudian secara konsisten memperlebar keunggulannya, terutama saat fase pit stop pertama mulai berjalan dan mengubah dinamika barisan terdepan.

Saat Verstappen memperpanjang stint pertamanya, perhatian beralih ke garasi Ferrari setelah kedua mobil mereka melakukan pit stop. Leclerc memang berhasil mempertahankan posisinya, namun ia harus menggunakan ban kompon medium. Keputusan ini membuat Hamilton berada tepat di belakangnya dengan balutan ban soft yang jauh lebih cepat dan segar.

- Advertisement -
Advertisement

Melalui radio tim, Hamilton sempat mengeluhkan kehilangan waktu dua detik dalam satu putaran dan mendesak, "Saya harus menggunakan kecepatan ini, kawan." Sayangnya, manajemen Ferrari tidak langsung memerintahkan pertukaran posisi, hingga akhirnya Leclerc mulai mampu memperlebar jarak sebelum Virtual Safety Car pada lap 39 mengubah jalannya lomba.

Leclerc memanfaatkan periode VSC tersebut untuk mengganti ban ke kompon soft bekas, sementara Hamilton memilih tetap berada di trek dengan ban soft yang sama guna mengamankan posisi lintasan. Keputusan ini justru menjadi bumerang karena menempatkan Hamilton pada kerugian usia ban hingga 21 putaran dibanding para rival di sekitarnya.

Baca Juga Bottas Dukung Perombakan Cadillac: 'Sesuatu Harus Berubah'

Ketika Ferrari tampak kebingungan menentukan opsi strategi bagi juara dunia tujuh kali itu, peluang untuk melakukan pit stop tambahan musnah begitu saja. Leclerc sempat meminta agar tidak kehilangan waktu saat mengejar rekan setimnya, dan Hamilton akhirnya mengalah dengan memberikan jalan di Tikungan 5 pada lap 48 demi kepentingan tim.

Menjelang akhir balapan, fokus penonton justru tertuju pada seberapa jauh penurunan posisi Hamilton di barisan belakang. Pada lap 54, ia sudah berada dalam bayang-bayang Lando Norris dan Kimi Antonelli, yang berujung pada insiden di Tikungan 1 ketika Hamilton harus melebar ke area run-off.

Situasi tersebut dimanfaatkan dengan sempurna oleh Antonelli dan Norris untuk menyalip. Penderitaan Hamilton semakin lengkap ketika Oscar Piastri turut menyalipnya menjelang akhir lomba, yang membuat sang pembalap langsung menyampaikan permintaan maaf kepada tim seusai balapan atas keputusan strateginya sendiri. "Maaf kawan-kawan, saya mengecewakan kalian hari ini dengan strategi itu. Itu keputusan saya," ujar Hamilton mengakui kesalahannya.