Pembalap tim Alpine, Pierre Gasly, melontarkan pertanyaan tajam terhadap keputusan para pengawas balap FIA yang memutuskan untuk tidak memberikan sanksi kepada Lando Norris atas insiden senggolan di lintasan. Insiden tersebut melibatkan sesama pembalap McLaren pada lap terakhir balapan sprint di Singapura, di mana Norris bersenggolan dengan rekan setimnya sendiri, Oscar Piastri, hingga memicu perdebatan panjang di paddock Formula 1.

Situasi ini bermula ketika kedua mobil McLaren berada di posisi keempat dan kelima di belakang pembalap Ferrari, Charles Leclerc. Leclerc saat itu mulai mengalami kesulitan akibat degradasi ban kompon intermediate yang digunakannya. Memanfaatkan celah tersebut, Norris mencoba melakukan manuver agresif dari sisi dalam di Tikungan 5. Norris mengambil keputusan penuh untuk masuk ke dalam jalur, sementara Piastri tetap berada di garis balapnya, yang akhirnya berujung pada kontak fisik dan membuat mobil Piastri berputar hingga menghantam pembatas lintasan. Meski sempat mengalami insiden, Norris mampu melanjutkan balapan dan finis di posisi kedelapan, tepat di depan Gasly.

Para pengawas balap langsung melakukan investigasi mendalam terhadap insiden tersebut. Namun, dalam buletin resmi yang dirilis saat sesi kualifikasi berlangsung atau sekitar tiga jam kemudian, insiden itu dinyatakan sebagai murni insiden balapan atau racing incident. Keputusan ini sontak memicu reaksi dari Gasly, yang secara terbuka menyatakan keraguannya melalui bahasa diplomatis khas dunia olahraga. "Kami memiliki pengawas untuk itu. Mereka telah memutuskan. Apa pun yang dikatakan wasit, wasit selalu benar," ujar Pierre Gasly menanggapi keputusan kontroversial tersebut.

- Advertisement -
Advertisement

Komentar tersebut tentu bukan tanpa alasan, mengingat Gasly memiliki kepentingan langsung dalam perebutan poin. Jika saja Norris dijatuhi penalti, Gasly otomatis akan naik posisi dan mendulang tambahan angka penting bagi timnya. Rasa penasaran Gasly semakin memuncak jika dibandingkan dengan insiden yang melibatkan rekan setimnya di awal rangkaian balapan beruntun ini, yaitu Franco Colapinto di Azerbaijan. Pada balapan sebelumnya di Baku, Colapinto diganjar penalti turun posisi start setelah dianggap bersalah karena menabrak Gasly saat restart Safety Car.

Baca Juga Lando Norris Lolos dari Hukuman Usai Insiden GP Singapura

Dalam insiden di Baku tersebut, Colapinto mengalami kunci roda atau lock up di tikungan pertama saat balapan dimulai kembali, yang berujung pada benturan dengan Gasly dan menyeret Norris. Kecelakaan itu langsung memupus harapan Alpine untuk meraih poin. Meskipun bos Alpine, Flavio Briatore, sempat marah besar dan mengisyaratkan sanksi internal bagi pembalap mudanya, analisis data lanjutan justru menunjukkan bahwa Colapinto hanya melakukan pengereman sekitar 3 persen lebih keras dari biasanya di titik tikungan tersebut.

Perdebatan mengenai konsistensi keputusan FIA semakin diperparah dengan insiden lain yang melibatkan pembalap Racing Bulls, Liam Lawson dan Arvid Lindblad, serta pembalap Haas, Esteban Ocon, pada momen restart Safety Car yang sama. Lindblad berusaha menyalip dua pembalap di depannya namun terjepit di ruang sempit, yang berujung pada senggolan dan merusak lantai mobil Lawson. Meski demikian, FIA memutuskan untuk tidak memberikan hukuman dengan alasan ruang yang terbatas dan efek domino dari insiden di depan. Keputusan-keputusan inkonsisten ini terus memicu diskusi panas di kalangan pembalap mengenai standar penalti yang diterapkan oleh FIA sepanjang musim balap.

Pierre Gasly dan Lando Norris di F1