Akhir pekan Formula 1 di Sirkuit Marina Bay, Singapura, menghadirkan catatan sejarah sekaligus pekerjaan rumah yang signifikan bagi Max Verstappen. Sang juara dunia asal Belanda tersebut berhasil mengamankan posisi start terdepan atau pole position yang ke-50 sepanjang kariernya di ajang balap jet darat paling bergengsi di dunia. Capaian luar biasa ini menempatkannya dalam kelompok elit bersama legenda-legenda besar Formula 1 seperti Lewis Hamilton, Michael Schumacher, Ayrton Senna, dan Sebastian Vettel. Meskipun menorehkan pencapaian prestisius tersebut, Verstappen tetap menunjukkan sikap dingin dan menegaskan bahwa rekor bukanlah motivasi utamanya dalam membalap.
“Itu bukan alasan saya melakukan ini,” ujar Verstappen menanggapi pencapaian 50 pole position-nya. “Saya menjalaninya satu akhir pekan dalam satu waktu dan selalu mencoba mendapatkan hasil maksimal darinya. Apakah itu nomor 50, 55, atau 45... Semakin banyak tentu semakin baik, tetapi itu bukan sesuatu yang akan saya renungkan dan menepuk punggung sendiri sambil berpikir, 'Ini benar-benar bagus.' Tidak, sama sekali tidak.”
Terlepas dari pencapaian gemilang di sesi kualifikasi utama, sprint kualifikasi, dan balapan sprint, akhir pekan di Singapura tidak berjalan sepenuhnya tanpa cela bagi tim Red Bull. Lintasan jalan raya Marina Bay yang kerap menjadi momok atau titik lemah bagi Red Bull dalam beberapa tahun terakhir berhasil ditaklukkan oleh kecepatan Verstappen, namun ia tetap mengungkapkan ketidakpuasannya ketika berbicara kepada media di paddock. Masalah utama yang menjadi sorotan tajam adalah performa start yang dinilai kurang optimal dan berpotensi merugikan peluang kemenangan saat balapan utama.
“Tidak, karena tentu saja itu tidak sempurna,” jawab Verstappen ketika ditanya oleh Autosport mengapa ia tidak terlihat 100 persen puas. “Selalu ada hal lain yang bisa ditemukan dan saya selalu ingin mendapatkan lebih banyak darinya. Itulah yang akan terus kami kerjakan.” Dua aspek utama yang menjadi kendala pada hari Sabtu meliputi proses penurunan gigi atau downshift serta masalah krusial pada awal balapan sprint yang digambarkan oleh sang pembalap sebagai awal yang sangat buruk.
Baca Juga Guenther Steiner Peringatkan Madrid: Gagal jika Tak DiperbaikiAnalisis lebih mendalam menunjukkan adanya dua faktor terpisah di balik masalah start yang kerap menghantui Verstappen sepanjang musim ini. Selain inkonsistensi umum pada prosedur start, faktor pemilihan gigi saat kondisi lintasan basah di Sepang dan Singapura turut memegang peranan penting. Mengikuti rekomendasi tim, Verstappen memilih untuk memulai balapan menggunakan gigi dua. Namun, para rival terdekatnya, termasuk George Russell, justru memilih gigi pertama yang terbukti jauh lebih efektif dalam mendongkrak putaran turbo unit daya.
Dengan evaluasi menyeluruh yang dilakukan bersama teknisi Red Bull, Verstappen bertekad mengubah pendekatan teknis tersebut jika situasi serupa terulang di masa depan. Meskipun demikian, harapan terbesar sang pembalap andalan Red Bull tetap pada kondisi lintasan kering agar ia dapat mengoptimalkan potensi penuh mobilnya tanpa hambatan eksternal yang pelik saat lampu start padam pada hari Minggu.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!