Akhir pekan yang rumit kembali harus dilalui oleh pembalap asal Italia, Pecco Bagnaia, dalam lanjutan kejuaraan dunia MotoGP. Sang juara dunia harus meninggalkan Sirkuit Mandalika, Indonesia, tanpa meraih satupun poin setelah mengalami insiden kecelakaan di tikungan 17 ketika berupaya keras untuk memperbaiki posisi di barisan depan. Masalah klasik terkait kurangnya daya cengkeram atau grip kembali menjadi faktor utama yang menghambat potensi maksimalnya di atas lintasan, sekaligus menutup peluangnya untuk bersaing dalam perebutan barisan terdepan.
Situasi pelik ini memicu kekhawatiran mendalam bagi sang rider andalan pabrikan Borgo Panigale tersebut. Sepanjang akhir pekan di Indonesia, kendala teknis terus membayangi performanya, membuatnya kesulitan menemukan setelan terbaik untuk menjinakkan motor Desmosedici. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari kolaborator Manuel Pecino, pembalap asal Turin itu mengakui bahwa kelemahan motor semakin kentara di sirkuit-sirkuit yang menuntut daya cengkeram tinggi, di mana pembalap pabrikan lain pengguna mesin serupa juga merasakan kendala serupa meski dalam skala yang sedikit lebih ringan.
Mengulas insiden di tikungan 17, Bagnaia menjelaskan detail detik-detik sebelum dirinya tergelincir keluar lintasan. Ia menyatakan bahwa dirinya berada dalam situasi yang sangat sulit dan harus berjuang keras demi mengejar posisi Luca Marini guna menjaga tekanan ban depan tetap ideal. Namun, upaya tersebut berujung pada tekanan berlebih terhadap kendaraannya yang gagal memberikan respons kecepatan yang diinginkan hingga akhirnya bagian depan motor kehilangan traksi secara total.
Lebih lanjut, ia menyoroti kemunduran performa motor dalam dua tahun terakhir, terutama di lintasan yang menuntut kecepatan tikungan tinggi dan stabilitas cengkeram ban. Ketiadaan koneksi yang baik pada bukaan gas membuat penanganan motor semakin pelik, terutama di sirkuit dengan tingkat grip aspal yang rendah. Analisis data telemetri memperlihatkan bahwa problem ini turut dirasakan oleh rider Ducati lainnya, namun dirinya menjadi pihak yang paling terdampak parah hingga melontarkan pernyataan bahwa situasi saat ini sama sekali tidak berada di jalur yang ideal.
Baca Juga Aprilia Ungkap Inovasi Aero RS-GP26 di BuriramSelain masalah internal pada kendaraannya, tantangan besar juga hadir dari kesulitan menjaga temperatur dan tekanan ban depan agar tetap berada dalam rentang optimal. Karakter sirkuit yang minim zona pengereman keras, dipadu dengan kondisi kelembapan udara serta temperatur tinggi, membuat seluruh pembalap di grid harus bekerja ekstra keras. Menatap seri berikutnya di Sirkuit Phillip Island, kekhawatiran terbesar terletak pada potensi berulangnya masalah traksi roda belakang yang telah menghantuinya sejak awal musim kompetisi.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!