Pemberlakuan regulasi tekanan ban yang ketat di kejuaraan dunia balap motor kembali memicu kontroversi besar setelah akhir pekan balapan di Sirkuit Mandalika, Indonesia. Kebijakan teknis yang diterapkan oleh penyelenggara balapan dinilai telah merusak esensi pertarungan murni di atas lintasan, terutama setelah beberapa pebalap terpaksa mengorbankan posisi terbaik mereka demi mematuhi batas minimal tekanan ban yang ditetapkan oleh pemasok resmi Michelin.
Salah satu kritik paling tajam dilontarkan oleh pebalap muda berbakat asal tim Red Bull KTM Factory Racing yakni Pedro Acosta. Pebalap asal Spanyol tersebut secara terbuka meluapkan kekesalannya usai merampungkan balapan utama di Indonesia. Menurutnya, regulasi yang memaksa pebalap untuk mengatur jarak dan membiarkan rival mendahului demi menjaga parameter ban membuat aksi di atas lintasan terlihat tidak masuk akal dan merugikan tontonan televisi.

Situasi pelik tersebut bermula ketika Acosta berhasil melancarkan aksi overtaking yang impresif pada lap ketujuh untuk merebut posisi keempat dari pebalap Gresini Racing yakni Marc Marquez. Memulai balapan dari posisi kesembilan di grid, pebalap debutan berbakat ini sempat menunjukkan kecepatan yang sangat menjanjikan di awal lomba sebelum kendala teknis pada ban depan mulai menghantui performa motornya.
Ketika tekanan pada ban depan miliknya melampaui batas toleransi yang diizinkan, Acosta tidak memiliki pilihan selain mengembalikan posisi tersebut dan sengaja membiarkan Marquez melaju di depannya. Kedua pebalap papan atas ini kemudian terlibat dalam drama saling bertukar posisi selama 10 hingga 12 lap berikutnya. Manuver melambat dan saling memberi jalan ini dinilai memberikan tontonan yang buruk bagi para penggemar yang menyaksikannya melalui layar kaca.
Baca Juga Starting Grid MotoGP Indonesia 2026: Raul Fernandez Rebut PoleDinamika balapan yang terganggu akibat regulasi ini turut dimanfaatkan dengan baik oleh pebalap Trackhouse yakni Ai Ogura. Memanfaatkan pertarungan tidak biasa di grup depan, Ogura sukses menyalip kedua pebalap tersebut menjelang fase akhir balapan, yang sekaligus menggenapi dominasi pabrikan asal Noale dalam mengamankan posisi teratas klasifikasi akhir balapan grand prix di Mandalika.
Kritik terhadap aturan tekanan ban ini bukan tanpa alasan, mengingat sehari sebelumnya insiden serupa juga menimpa pebalap Pramac Racing yaitu Jorge Martin yang harus rela kehilangan posisi pimpinan lomba pada sesi sprint race akibat kendala teknis yang sama. Acosta menegaskan bahwa aturan batas minimal tekanan seharusnya hanya diberlakukan saat pebalap meninggalkan grid pelepasan, bukan mengontrol situasi kompetitif yang dinamis selama balapan berlangsung.
"Kami terlihat seperti keledai," ujar Acosta mengkritik jalannya balapan. "Saya pikir Marquez juga mengalami masalah yang sama seperti saya, karena dia membiarkan saya lewat juga. Saya paham bahwa kita harus memiliki tekanan minimum sebelum turun ke lintasan, tetapi Anda tidak bisa menentukan apa yang terjadi di dalam balapan." Dilansir dari Motorsport.com, ia menambahkan bahwa situasi di trek menjadi tidak terkendali karena para pebalap harus terus-menerus memikirkan regulasi alih-alih fokus bertarung secara maksimal.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!