Melihat kembali jalannya balapan di Grand Prix Singapura, Charles Leclerc mengakui bahwa dirinya mungkin akan mengambil keputusan yang persis sama pada tikungan pertama. Memulai balapan dengan reaksi yang lebih baik dari rivalnya, pembalap asal Monako tersebut berhasil merebut sisi dalam lintasan saat mendekati Tikungan 1. Di ruang media, banyak pihak yang sempat berspekulasi bahwa ia seharusnya mempertahankan posisinya secara lebih agresif demi merebut pimpinan lomba dari tangan Max Verstappen sejak awal.
Namun, situasi di atas lintasan jauh lebih kompleks daripada yang terlihat sekilas. Max Verstappen berada di sisi luar yang notabene merupakan jalur balap normal dengan cengkeraman ban yang sedikit lebih baik. Sang juara dunia empat tahun beruntun itu bahkan telah menegaskan kepada Autosport sehari sebelumnya bahwa posisi kedua atau ketiga di kejuaraan pembalap sama sekali tidak ada artinya baginya, karena ia hanya ingin tampil habis-habisan demi memburu kemenangan. Tekad baja ini membuat Verstappen siap mengambil risiko terbesar dalam setiap duel.
Kendati demikian, faktor keberanian bukan satu-satunya penghalang bagi Charles Leclerc untuk menyelesaikan manuver tersebut. Titik acuan pengereman yang biasa digunakan oleh para pembalap, seperti papan petunjuk 150 meter dan 100 meter, berada di sisi kanan saat mendekati Tikungan 1. Karena posisi mobilnya berdampingan dengan Verstappen, Leclerc tidak memiliki visibilitas yang cukup untuk melihat papan-papan penanda tersebut secara akurat. Akibatnya, pembalap andalan Scuderia Ferrari itu terpaksa harus mengandalkan insting murni saat menentukan titik pengereman.
"Saya akan melakukan hal yang sama persis," ujar Charles Leclerc tanpa rasa penyesalan berlebihan terkait insiden di tikungan pembuka tersebut. Meskipun ia tidak menganggap awal balapan sebagai sebuah kesempatan yang terbuang, situasi berbeda justru terjadi beberapa putaran kemudian. Max Verstappen sempat terlihat mengendalikan tempo di fase awal untuk menjaga keawetan bannya, namun terungkap dalam konferensi pers pascabalapan bahwa strategi tersebut juga dipengaruhi oleh kendala teknis yang tidak terduga.
Baca Juga Lawson Berharap Hujan di Belgian GP 2025 Usai Frustrasi Kualifikasi!"Kami mengalami beberapa putaran dengan masalah pengerahan tenaga, di situlah Charles hampir mendahului saya di Tikungan 7," ungkap Max Verstappen menjelaskan situasi pelik yang dihadapinya. Masalah suplai tenaga listrik yang tidak optimal ini turut dirasakan oleh pembalap muda Arvid Lindblad dari tim Red Bull, Racing Bulls, yang menggunakan unit daya serupa. Arvid Lindblad mengeluhkan bahwa masalah pada unit daya tersebut membuat mobilnya sangat sulit dikendalikan, terutama di lurusan dan saat melakukan pengereman mesin.
Bagi Max Verstappen, masalah tersebut terbatas pada fase awal balapan di Singapura, namun Charles Leclerc merasa menyesal karena gagal memanfaatkan celah tersebut secara maksimal. Leclerc mengira kendala yang dialami lawannya hanya terjadi sekali saja, sehingga ia memilih untuk tidak menggunakan baterainya secara agresif pada momen-momen krusial tersebut. Setiap kali Verstappen melambat di lurusan, pembalap Ferrari itu selalu berpikir bahwa itu adalah kejadian terakhir, sehingga ia gagal mengantisipasi dan menyesuaikan strategi pengerahan energinya sendiri.

Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!