Penyelenggaraan Grand Prix Singapura 2026 menyisakan kekecewaan mendalam bagi kubu Scuderia Ferrari setelah hasil yang kurang memuaskan di Sirkuit Marina Bay. Mengawali balapan dengan ekspektasi tinggi, Lewis Hamilton harus puas finis di posisi keenam. Keputusan kontroversial diambil di tengah balapan ketika sang juara dunia memilih mengabaikan panggilan pit tim dan bertahan selama 44 putaran penuh menggunakan ban lunak (soft) yang berujung pada hilangnya peluang meraih podium bersama rekan setimnya.

Mantan pebalap Formula 1 yang kini menjadi pengamat terkemuka, Martin Brundle, memberikan analisis tajam mengenai jalannya lomba tersebut. Melalui kolom resminya untuk Sky Sports F1, Brundle menyoroti momen krusial ketika Virtual Safety Car (VSC) diberlakukan menyusul insiden yang menimpa pebalap Aston Martin. Alih-alih memanfaatkan situasi tersebut untuk mengganti ban dengan kerugian waktu yang minim, keputusan justru diambil untuk tetap berada di lintasan.

"Hamilton memulai balapan dengan ban medium baru namun mulai kesulitan seiring berjalannya lomba. Tampak berada di jalur strategi dua pemberhentian, ia masuk pit lebih awal pada putaran ke-18 untuk menggunakan ban lunak. Secara aneh, ia tidak berhenti lagi, meskipun ada kesempatan untuk melakukan pit stop yang relatif murah di bawah Virtual Safety Car [VSC] ketika mobil Aston Martin yang mogok milik Lance Stroll harus dibersihkan dari sirkuit," tulis Brundle mengulas jalannya balapan dari kotak komentar.

- Advertisement -
Advertisement

Dampak dari keputusan tersebut langsung dirasakan pada paruh kedua lomba. Laju kendaraan mengalami penurunan performa yang signifikan akibat degradasi ban yang parah. Puncak penderitaan terjadi di fase-fase akhir balapan ketika posisi kelima harus lepas ke tangan pebalap McLaren, Oscar Piastri, yang sebelumnya bahkan sempat melakukan pit stop tidak terencana akibat kebocoran ban lambat.

"Hamilton kemudian harus menjalani kemerosotan posisi yang tak kenal ampun, akhirnya kehilangan tempat kelima dari McLaren milik Oscar Piastri pada tahap akhir, meskipun pebalap Australia itu telah melakukan pit stop yang tidak dijadwalkan untuk ban lambat yang bocor," tambah Brundle menganalisis penurunan drastis performa tersebut.

Selepas perlombaan, tabir misteri di balik strategi janggal tersebut akhirnya terkuak ke permukaan publik. Keputusan untuk beralih ke strategi satu kali pit stop dan memaksakan ban lunak bertahan selama 44 putaran ternyata merupakan inisiatif sang pebalap sendiri. Situasi ini memicu dilema klasik di ajang olahraga aspal jet darat, di mana mengemudikan mobil modern yang kompleks sekaligus memegang kendali penuh atas keputusan taktis dari balik kokpit bukanlah perkara mudah.

Baca Juga Christian Horner Ungkap Alasan Dibalik Kepergiannya dari Red Bull

Prinsip keterbukaan juga ditunjukkan oleh pimpinan tim Ferrari, Fred Vasseur, yang tidak menutup-nutupi kekecewaannya dari dinding pit. Vasseur secara terbuka menyatakan kepada para awak media bahwa tim telah kehilangan potensi besar di Marina Bay akibat keputusan mandiri tersebut. Menurut penilaian internal tim, potensi finis di posisi kedua atau ketiga sebenarnya berada dalam genggaman seandainya instruksi untuk masuk pit dipatuhi.

"Kami kehilangan podium karena hal ini," ujar Vasseur menegaskan kerugian besar yang diderita skuad Maranello. Mengenai instruksi yang tidak diindahkan, ia menambahkan, "Ketika kami meminta mereka untuk masuk pit, Lewis ingin tetap berada di lintasan."

Meski menuai kritik tajam atas jalannya lomba, sikap ksatria ditunjukkan oleh sang pebalap asal Inggris tersebut. Tanpa mencari-cari kambing hitam, ia secara terbuka mengakui kesalahan taktis yang merusak peluang terbaiknya akhir pekan itu. Melalui saluran radio tim usai melintasi garis finis, ia menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada seluruh kru yang telah bekerja keras sepanjang akhir pekan.

"Maaf, kawan-kawan. Saya mengecewakan kalian hari ini dengan strategi itu," ucapnya melalui radio tim. Rangkaian akhir pekan yang melelahkan tersebut ditutup dengan absennya sang pebalap dari sesi jumpa pers media setelah dilaporkan merasa kurang enak badan dan harus menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut.