Aksi kontroversial terjadi di lintasan jalan raya Marina Bay ketika Lewis Hamilton harus merelakan peluang emas meraih podium akibat keputusan strategi mandiri yang diambilnya sendiri. Balapan Formula 1 Grand Prix Singapura yang menuntut ketahanan fisik dan mental tinggi tersebut menyisakan kekecewaan mendalam bagi sang juara dunia tujuh kali, yang akhirnya harus puas finis di posisi keenam setelah mengalami penurunan performa yang drastis di paruh kedua lomba.
Sejak awal perlombaan, jalannya balapan 62 putaran ini tampak menjanjikan bagi kubu Maranello. Hamilton memulai balapan menggunakan ban kompon Medium, sementara rekan setimnya memilih ban Soft untuk menghadapi ketatnya persaingan awal. Memasuki putaran ke-18, momen krusial tiba ketika jadwal masuk pit pertama dicanangkan, di mana Hamilton memutuskan untuk beralih menggunakan ban Soft demi mengejar catatan waktu yang lebih kompetitif di sirkuit yang dikenal sangat sulit untuk melakukan aksi penyelipkan.
Kendati demikian, situasi berubah drastis ketika Virtual Safety Car (VSC) diaktifkan menyusul insiden yang menimpa mobil Aston Martin milik Lance Stroll. Peluang emas untuk melakukan pit stop murah di depan mata justru diabaikan. Meskipun tim awalnya merancang strategi dua kali masuk pit untuk kedua pembalapnya, Hamilton justru mengambil alih kendali taktis dan memilih bertahan dengan set ban Soft yang sama hingga garis finis, sebuah perjudian besar yang akhirnya berujung pada bencana degradasi ban.
Pengamat senior Martin Brundle memberikan kritik tajam atas keputusan yang dinilainya sangat aneh tersebut. Melalui analisis pascabalapannya, Brundle menyoroti bagaimana keputusan mandiri tersebut justru menghancurkan peluang podium yang sudah berada di depan mata. Hamilton harus menderita di atas ban yang aus selama 44 putaran penuh, hingga akhirnya kehilangan posisi kelima dari pembalap McLaren, Oscar Piastri, menjelang detik-detik akhir balapan.
"Hamilton memulai balapan dengan ban Medium baru namun mulai kesulitan seiring berjalannya balapan. Tampak berada dalam jalur strategi dua kali pit, ia masuk pit lebih awal pada putaran ke-18 untuk menggunakan ban lunak. Secara aneh, ia tidak mau berhenti lagi, meskipun ada kesempatan untuk melakukan pit stop murah di bawah Virtual Safety Car," tulis Brundle menguraikan jalannya insiden krusial di Marina Bay.
Baca Juga Wolff Sudah Tahu Antonelli Akan 'Berjalan di Atas Air' di MonzaMenyadari kesalahan fatal yang dibuatnya, pembalap asal Inggris tersebut langsung menyampaikan permintaan maaf melalui radio tim sesaat setelah melintasi garis finis. Karena merasa tidak enak badan, ia tidak menghadiri sesi wajib media pascabalap, namun memilih mencurahkan perasaannya melalui akun media sosial pribadinya untuk meredakan spekulasi publik.
"Kemarin bukanlah hasil yang kami cari, dan itu adalah tanggung jawab saya. Di lintasan yang sulit untuk melakukan menyalip, Anda harus mencoba sesuatu yang berbeda dan saya memilih strategi yang pada akhirnya tidak berhasil," ungkap Hamilton dalam pernyataan resminya, mengakui bahwa insiden ini menjadi pelajaran yang sangat menyakitkan bagi perjalanan kariernya.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!