Akhir pekan Grand Prix Singapura 2026 menyajikan kontras performa yang sangat tajam di garasi Red Bull Racing. Di satu sisi, sang juara dunia sukses mengamankan posisi terdepan untuk balapan utama hari Minggu, namun di sisi lain, rekan setimnya yakni Isack Hadjar justru harus menelan pil pahit akibat serangkaian masalah mekanis beruntun yang melanda mobilnya di bawah sorotan lampu Marina Bay Street Circuit.
Rentetan mimpi buruk bagi pembalap muda berbakat ini bermula ketika ia mengalami kerusakan unit daya fatal yang memaksanya untuk mundur lebih awal dari sesi balap Sprint hari Sabtu. Menyikapi kegagalan tersebut, para mekanik Red Bull langsung bekerja keras dalam waktu singkat untuk mengganti komponen mesin krusial jelang sesi kualifikasi malam hari. Sayangnya, kerja cepat di garasi tersebut gagal membuahkan hasil optimal karena komponen pengganti tidak mampu bertahan di atas lintasan.
Situasi semakin memburuk ketika memasuki fase Q1 kualifikasi. Melalui sambungan radio tim, Isack Hadjar melaporkan bahwa mesin kendaraannya tiba-tiba mati total, memaksanya berjalan pincang kembali ke dalam garasi. Tak berhenti sampai di situ, dalam upaya berikutnya untuk mencatatkan waktu putaran kompetitif, ia kembali mengalami nasib sial setelah seluruh girboks mobilnya mengalami kerusakan parah. Akibat insiden beruntun tersebut, sang pembalap gagal mencatatkan waktu representatif dan harus puas mengunci posisi start paling buncit di grid.
Ketika jurnalis Sky Sports F1 Craig Slater menanyakan apakah mengetahui bahwa kegagalan girboks bukan merupakan kesalahannya bisa membuat hasil buruk ini lebih mudah diterima, reaksi keras langsung ditunjukkan oleh sang pembalap. Tanpa ragu, ia secara tegas menolak anggapan tersebut dan menyatakan rasa frustrasinya yang mendalam karena kehilangan kesempatan berharga untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya di atas lintasan balap Formula 1.
Kemarahan pembalap asal Prancis ini semakin memuncak mengingat banyaknya waktu lintasan krusial yang terbuang sia-sia, padahal ia meyakini bahwa paket sasis mobilnya memiliki kecepatan kompetitif yang cukup untuk melaju jauh melewati fase eleminasi. Kepada media, ia mengungkapkan kekesalannya melihat tumpukan ban lunak di garasi yang terbuang percuma tanpa bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk bertarung melawan para rival utama di barisan depan.
Baca Juga Nakagami Gantikan Mir yang Sakit di MotoGP Austria 2025Menanggapi situasi pelik yang menempatkannya di posisi start paling belakang, mengambil penalti grid tambahan demi memasang komponen mekanis baru secara sengaja tampaknya menjadi opsi paling masuk akal bagi skuad yang berbasis di Milton Keynes tersebut. Ketika disinggung mengenai potensi penambahan alokasi unit daya baru, Isack Hadjar memberikan dukungan penuh atas langkah drastis penyegaran mesin secara menyeluruh.
Sementara itu, pimpinan tim Laurent Mekies hingga kini belum memberikan konfirmasi resmi terkait apakah skuad teknik akan melanggar aturan parc ferme demi memasang komponen mesin baru pada mobil sang pembalap. Menghadapi situasi di mana kendala teknis terus mendera sepanjang akhir pekan, restart total menjadi harga mati demi menyelamatkan sisa paruh musim kompetisi balap mobil bergengsi dunia ini.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!