Kebangkitan luar biasa ditunjukkan oleh Kawasaki pada seperempat musim terakhir ajang balap dunia, di mana pembalap Spanyol Jeremy Alcoba menjelma sebagai salah satu kekuatan paling dominan di lintasan. Kesuksesan tersebut turut merembet ke garasi sebelah, di mana pembalap berpengalaman asal Swiss, Dominique Aegerter, berhasil menemukan kembali sentuhan terbaiknya setelah melalui serangkaian akhir pekan balapan yang sangat melelahkan secara mental maupun fisik.

Performa impresif Aegerter mulai terlihat sejak putaran di Cremona, berlanjut secara konsisten ke seri Estoril, hingga puncaknya terjadi pada seri penutup musim di Jerez. Pada balapan hari Minggu di Jerez, pembalap bernomor khas ini sukses mengamankan posisi kelima, yang sekaligus tercatat sebagai hasil balapan terbaiknya sepanjang musim kompetisi tahun ini. Lonjakan performa yang signifikan ini tidak datang begitu saja, melainkan hasil dari kerja keras tim dalam menemukan solusi teknis yang krusial pada motor Kawasaki pacuannya.

Dalam perbincangan mendalam bersama media spesialis balap Speedweek, Aegerter secara blak-blakan menceritakan betapa sulitnya fase-fase yang ia lalui sebelum akhirnya berhasil membalikkan keadaan. «Dalam tes terakhir di Cremona, kami berhasil menemukan sesuatu yang selama ini hilang, karena sebelumnya paket keseluruhan sama sekali tidak bekerja dengan baik,» ungkap Aegerter menjelaskan titik balik kebangkitannya di atas lintasan balap.

- Advertisement -
Advertisement

Lebih lanjut, pembalap yang pernah mendominasi kelas menengah pada tahun 2021 dan 2022 tersebut mengakui bahwa persaingan di kejuaraan saat ini jauh lebih ketat dibanding masa lalu, di mana selisih catatan waktu antar pembalap sangat rapat dan menuntut kesempurnaan di setiap aspek. «Dulu hanya ada sepuluh pembalap yang kompetitif, sekarang jumlahnya bertambah lima belas orang, ditambah lagi motor-motor saat ini memiliki spesifikasi yang jauh lebih berdekatan,» tambahnya mengulas peta kekuatan kompetitor.

Baca Juga Mengenang Rekam Jejak Kekalahan Paling Menyakitkan di Ajang Bathurst 1000

Tekanan mental yang luar biasa sempat menghantam pebalap berusia 36 tahun itu pada pertengahan musim, ketika hasil-hasil minor terus menerus didapatkannya tanpa mampu bersaing di barisan depan. «Di pertengahan tahun, saya sempat berpikir untuk berhenti balapan, saya benar-benar hancur secara mental. Jika Anda bahkan tidak bisa finis di zona poin, itu adalah situasi yang sangat pahit,» kenang Aegerter mengenang masa-masa tergelapnya sebelum akhirnya mampu bangkit di pengujung musim.

Perjuangan keras Aegerter di balapan pamungkas Jerez juga diwarnai drama di awal lomba, di mana ia sempat tercecer dari posisi start keempat ke posisi kesembilan pada lima putaran pertama akibat kendala traksi awal motor. Namun, dengan determinasi tinggi dan pengalaman bertahun-tahun, ia mampu melakukan, perlawanan sengit untuk merangsek naik kembali hingga finis di posisi kelima, mengakhiri musim yang penuh liku dengan catatan positif yang membanggakan bagi seluruh anggota tim.