Selama dua dekade penuh dominasi di ajang balap jet darat, Red Bull Racing menasbihkan diri sebagai kekuatan anti-establishment yang paling disegani di Formula 1. Didirikan oleh mendiang taipan asal Austria, Dietrich Mateschitz, dan dikomandoi dengan tangan besi oleh Christian Horner dari dinding pit, skuad yang berbasis di Milton Keynes tersebut selalu bangga melakukan hal-hal yang dianggap mustahil oleh pabrikan tradisional, yang berpuncak pada pembentukan Red Bull Powertrains yang sangat ambisius pada tahun 2021 lalu.
Namun, lebih dari satu tahun setelah pemecatannya yang cukup mengejutkan pada Juli 2025, Horner melontarkan kritik tajam terhadap arah dan identitas skuad saat ini. Dalam wawancaranya bersama The Guardian, mantan prinsipal tim tersebut mengindikasikan bahwa DNA nonkonformis yang dulunya sukses membawa Red Bull meraih 14 gelar juara dunia kini telah terkikis di bawah kepemimpinan CEO korporat Oliver Mintzlaff serta penggantinya di pit wall, Laurent Mekies.
Dilansir dari Motorsport.com, Horner menyoroti bagaimana pergeseran struktur kepemimpinan mengubah karakter dasar tim secara drastis. Selama masa jabatannya, Horner kerap terlibat gesekan dengan hierarki korporat dan para petinggi rival, demi mempertahankan narasi bahwa tim minuman berenergi independen mampu meruntuhkan dominasi raksasa otomotif warisan sejarah. Melihat organisasi tersebut hari ini, Horner meyakini bahwa daya dobrak dan ketajaman itu telah tumpul secara signifikan akibat birokrasi korporat.
Red Bull dulunya dikenal sebagai tim maverick yang selalu mendobrak batas kemampuan, di mana hanya perusahaan minuman bersoda yang cukup gila untuk membangun mesin balap secara mandiri. Mantra utama mereka adalah menjadi nonkonformis dan tampil sebagai perusak kemapanan, sebuah situasi yang dinilai Horner sudah jauh berbeda sekarang ini. Perubahan haluan ini mencerminkan kontras yang sangat tajam antara dukungan penuh penuh kepercayaan dari Mateschitz kepada Horner di masa lalu, dengan struktur sentralisasi dewan direksi yang diterapkan oleh Mintzlaff sepeninggal Mateschitz pada akhir tahun 2022 silam.
Baca Juga Ben Sulayem Bela Alonso: Jangan Tinggalkan F1 Karena PerformaTanpa kehadiran figur tunggal yang memegang kendali penuh atas operasional olahraga maupun komersial secara otonom, arah tim diklaim telah bergeser dari kelompok pemberontak yang lincah menjadi operasi korporasi yang steril. Kritik dari Horner bahkan semakin menajam ketika ia didesak mengenai dinamika kekuasaan internal yang kini mengatur garasi tim, khususnya mengenai siapa yang benar-benar memegang kendali penuh antara Mekies atau sang juara dunia empat kali, Max Verstappen.
Meskipun menolak terseret lebih jauh ke dalam pusaran spekulasi tersebut, Horner memberikan tanggapan yang menyiratkan jarak dengan manajemen saat ini. Pada akhirnya Oliver Mintzlaff adalah sosok tertinggi dan tentu saja Max adalah aset yang sangat masif, sementara dirinya sendiri yang merekrut Laurent ke dalam sistem Red Bull namun tidak berada dalam posisi untuk menilai cara kerja kepemimpinannya saat ini.

Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!