Tim Red Bull Racing secara terbuka mengungkapkan bagaimana perangkat lunak strategi balap berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang dikembangkan bersama mitranya kini memegang peran krusial dalam pengambilan keputusan selama grand prix Formula 1 berlangsung. Teknologi canggih ini dirancang untuk memberikan rekomendasi taktis secara langsung kepada dinding pit ketika tekanan balapan berada di titik puncak.

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama CNBC, Kepala Kemitraan Teknis dan Performa Red Bull, Jack Harington, menjelaskan secara mendalam bahwa sistem inovatif tersebut dibangun bekerja sama dengan mitra utama mereka, Oracle. Apa yang awalnya dimulai sebagai mesin pencari sederhana untuk membantu para insinyur menafsirkan regulasi rumit Formula 1 serta keputusan steward di masa lalu, kini telah bertransformasi menjadi agen kecerdasan buatan otonom.

Sistem cerdas ini mampu memproses kumpulan data yang masif dalam hitungan detik dan memberikan rekomendasi tindakan yang harus diambil oleh tim selama perlombaan berjalan. Mengenai kemampuan tingkat lanjut ini, Jack Harington menegaskan bahwa teknologi tersebut bahkan berani mengambil keputusan krusial bagi tim di tengah sengitnya persaingan trek.

- Advertisement -
Advertisement

Kekuatan nyata dari agen cerdas ini terlihat jelas pada Grand Prix Italia 2025 di Sirkuit Monza. Pada lap pembuka balapan tersebut, Max Verstappen sempat melebar di chicane pertama saat terlibat duel sengit memperebutkan posisi terdepan melawan pembalap McLaren, Lando Norris. Menurut penjelasan Jack Harington, agen AI tersebut langsung memberikan saran kepada Red Bull agar segera mengembalikan posisi tersebut guna menghindari investigasi dan potensi penalti dari pengawas balapan.

Meskipun rekomendasi tersebut pada mulanya sempat bertentangan dengan pandangan spontan tim di pit wall, Red Bull akhirnya memutuskan untuk mengikuti instruksi dari sistem cerdas tersebut. Berkat kepatuhan pada analisis data real-time itu, Verstappen berhasil lolos dari hukuman berat, mampu merebut kembali posisi pimpinan lomba dari pembalap McLaren dengan mulus, dan akhirnya mendominasi balapan hingga keluar sebagai juara dengan keunggulan waktu mencapai 19,2 detik di garis finis.

Baca Juga Kimi Antonelli: Kesulitan 2025 Bikin Saya Lebih Kuat di 2026

Lebih lanjut, Jack Harington menambahkan bahwa meskipun teknologi memainkan peran yang semakin masif, Formula 1 akan tetap menjadi olahraga yang digerakkan oleh manusia. Kehadiran agen kecerdasan buatan ini diposisikan bukan untuk menggantikan intuisi manusia, melainkan sebagai alat bantu analitis tingkat tinggi untuk meningkatkan kapabilitas dan efisiensi operasional tim secara keseluruhan.

Transformasi digital di kasta premier motorsport ini juga melibatkan tim-tim rival utama di grid. Saat ini, McLaren tengah menjalin kerja sama strategis dengan Google untuk mengintegrasikan perangkat Gemini AI, Mercedes berkolaborasi erat dengan Microsoft, sementara Ferrari memilih bekerja sama dengan IBM guna menghadirkan pengalaman berbasis kecerdasan buatan bagi para penggemar global mereka.