Anak-Anak Indonesia: Antara Kebahagiaan dan Rendahnya Kemampuan Akademik

- Writer

Rabu, 19 Februari 2025 - 06:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pelajar Indonesia. Dok. TEMPO/Dasril Roszandi

Ilustrasi Pelajar Indonesia. Dok. TEMPO/Dasril Roszandi

Anak-Anak Indonesia Tidak Tahu Betapa Bodohnya Mereka

Pada Tahun 2013, Elizabeth Pisani, seorang peneliti berkebangsaan Amerika yang menetap dan mempuyai kewarganegaaraan Inggris, menerbitkan sebuah artikel yang berjudul “Indonesian kids don’t know how stupid they are” (Anak-anak Indonesia Tidak Sadar Betapa Bodoh Mereka).

Artikel tersebut membahas tentang hasil yang mengejutkan dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2012.

Tes PISA 2012 menilai kemampuan matematika, membaca, dan sains anak-anak usia 15 tahun di berbagai negara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasilnya, Indonesia menempati peringkat terbawah dalam ketiga bidang tersebut, tetapi anak-anaknya justru termasuk anak yang paling bahagia di sekolah.

Hasil PISA 2012: Indonesia di Peringkat Terbawah
Persentase siswa pada setiap tingkat kemampuan matematika
Persentase siswa pada setiap tingkat kemampuan matematika (Source: OECD, PISA 2012 Database, Table 1.2.1a)

PISA atau Programme for International Student Assessment, dilakukan setiap 3 tahun sekali

Hal ini untuk menilai kemampuan matematika, membaca, dan sains anak-anak usia 15 tahun di berbagai negara.

Data PISA 2012 menunjukkan bahwa lebih dari 75% siswa Indonesia berusia 15 tahun tidak memiliki keterampilan matematika yang cukup.

Sebanyak 42% siswa bahkan gagal mencapai level dasar dalam matematika, sehingga mereka kesulitan memahami konsep yang sangat sederhana, seperti membaca nilai dari sebuah diagram batang.

Hanya 0,3% siswa Indonesia yang berhasil mencapai skor level 5, salah satu level tertinggi dalam tes PISA, sementara di Shanghai, lebih dari 55% siswa mampu mencapainya. Sebuah perbandingan yang sangat jauh.

Sedangkan pada bidang sains juga tidak jauh berbeda. Seperempat siswa Indonesia gagal mencapai level dasar, sementara 42% lainnya hanya mampu mencapai level 1.

Ini berarti dua dari tiga siswa tidak dapat menarik kesimpulan dari penyelidikan ilmiah sederhana.

Namun, yang lebih parahnya lagi, dibandingkan dengan PISA 2009, kemampuan siswa Indonesia dalam bidang sains malah menurun.

Di bidang membaca, hasilnya sedikit lebih baik, akan tetapi Indonesia tetap berada di peringkat bawah.

Sebanyak 45% siswa mampu memahami bacaan pada tingkat dasar, sehingga mereka bisa berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, lebih dari setengah siswa masih belum mencapai standar tersebut. Bahkan, tidak ada satu pun siswa Indonesia yang berhasil mencapai level tertinggi (level 6) di ketiga bidang yang diuji.

Terlihat di dinding kelas di Sulawesi Selatan (Elisabeth Pisani)
Respon Pejabat dan Publik Indonesia

Tulisan Pisani tersebut memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, terutama pejabat pendidikan Indonesia.

Baca Juga :  Timnas Indonesia dan Skenario Lolos ke Piala Dunia 2026: Harapan Masih Ada!

Banyak yang merasa bahwa membandingkan sistem pendidikan Indonesia dengan negara maju seperti Singapura atau Finlandia tidak adil.

Mereka berpendapat bahwa faktor geografis yang luas dan beragam membuat pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia sulit tercapai.

Beberapa pihak juga berusaha menyangkal hasil PISA dengan menampilkan nama-nama siswa Indonesia yang menjuarai olimpiade sains internasional.

Saat pengumuman hasil PISA 2015 tiga tahun kemudian, hasilnya tetap mengecewakan.

Meski ada sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2012, Indonesia masih berada di peringkat bawah dunia.

Yang lebih mengejutkannya lagi, anak-anak Indonesia bahkan masih kalah dalam bidang matematika, sains, dan membaca dibandingkan dengan anak-anak Vietnam dan Thailand.

Namun, seperti sebelumnya, mereka tetap merasa bahagia di sekolah.

Menteri Pendidikan Nasional saat itu menyalahkan metodologi sampling PISA.

Ia menjelaskan bahwa, data berasal dari daerah yang cukup tertinggal pendidikannya, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun, penjelasan ini tidak banyak membantu mengubah fakta bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal.

Kesenjangan Antara Kebahagiaan dan Kualitas Pendidikan

Satu hal menarik dari laporan PISA adalah temuan bahwa anak-anak Indonesia sangat bahagia di sekolah.

Siswa Indonesia mengaku bahwa mereka sangat menikmati waktu mereka selama di sekolah, angka yang sangat tinggi, yaitu sebesar 95% siswa.

Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa di Shanghai yang sebesar 85% siswa dan hanya 60% siswa di Korea Selatan, yang menempati peringkat atas dalam matematika dan sains.

Dari kejadian ini, menimbulkan sebuah pertanyaan yaitu apakah kebahagiaan ini disebabkan oleh rendahnya tuntutan akademik di sekolah-sekolah Indonesia?

Pisani mengungkapkan kekhawatirannya bahwa anak-anak Indonesia mungkin tidak menyadari seberapa buruk sistem pendidikan mereka telah mengecewakan mereka.

Meskipun data telah menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka bahkan belum menguasai keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan modern.

Akan tetapi, banyak dari siswa ini yang percaya bahwa mereka telah memperoleh keterampilan yang cukup untuk menghadapi masa depan.

Sekitar 95% siswa menyatakan bahwa mereka telah belajar hal-hal yang mempersiapkan mereka untuk pekerjaan masa depan, sementara hampir tiga perempat merasa bahwa sekolah telah membekali mereka dengan baik untuk kehidupan dewasa.

Baca Juga :  PKBM Maritim Labuan Bekali Siswa Keterampilan Membuat Kue

Hanya kurang dari 10% yang merasa bahwa sekolah adalah buang-buang waktu.

Masa Depan Pendidikan Indonesia: Harapan dan Tantangan

Hasil PISA 2012 dan 2015 menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikannya.

Pemerintah Indonesia telah melakukan banyak daya dan upaya, seperti meningkatkan anggaran pendidikan nasional hingga 20% dari APBN, namun hingga saat ini masih belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, mulai dari metode pengajaran yang kurang efektif, kurangnya pelatihan bagi guru, hingga kurikulum yang tidak sesuai dengan standar global.

Namun, ada juga harapan. Beberapa sekolah dan komunitas pendidikan di Indonesia telah mulai menerapkan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan berbasis kompetensi. Pemerintah juga mulai fokus pada peningkatan kualitas guru serta penyediaan akses pendidikan yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia.

PISA bukanlah satu-satunya tolok ukur kualitas pendidikan, tetapi hasilnya memberikan gambaran tentang bagaimana orang membandingkan pendidikan di Indonesia dengan negara lain.

Jika Indonesia ingin bersaing di kancah global, reformasi pendidikan harus menjadi prioritas.

Tidak hanya sekadar meningkatkan peringkat dalam tes internasional, tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap anak Indonesia benar-benar mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Penutup

Hasil PISA 2012 menempatkan Indonesia di posisi terendah dalam matematika, membaca, dan sains, tetapi anak-anaknya tetap merasa bahagia di sekolah.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas sistem pendidikan Indonesia dalam mempersiapkan generasi muda untuk masa depan.

Reaksi pemerintah dan masyarakat terhadap hasil PISA menunjukkan bahwa masih banyak yang menyangkal realitas ini, alih-alih menggunakannya sebagai bahan refleksi dan perbaikan.

Ke depan, tantangan bagi sistem pendidikan Indonesia adalah memastikan bahwa kebahagiaan di sekolah tidak hanya muncul karena rendahnya tuntutan akademik, tetapi juga karena siswa benar-benar mengalami pembelajaran dan pengalaman yang bermakna.

Dengan reformasi pendidikan yang tepat, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikannya dan memastikan bahwa generasi mendatang lebih siap menghadapi dunia yang semakin kompetitif.

 

 

Penulis : Ikhwan Rahmansyaf

Follow WhatsApp Channel nusantara.media untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Belasan Tahun Lampu Jalan Terabaikan di Desa Kualaraya
Polda Banten Terapkan Sistem One Way di Kawasan Wisata Anyer
Tanjung Lesung: Destinasi Wisata Favorit Di Banten
Mudik Idul Fitri: Lebih dari 2,1 Juta Kendaraan Keluar Jakarta
Peringatan Cuaca: Hujan dan Gelombang di Pelabuhan Bakauheni
Kecelakaan Tunggal Honda CRV di Tol Lampung
Pantai Goa Langir Sawarna Destinasi Wisata Favorit
H+3 Lebaran Ribuan Wisatawan Padati Pantai Lagundi Anyer
Berita ini 113 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 April 2025 - 21:33 WIB

Belasan Tahun Lampu Jalan Terabaikan di Desa Kualaraya

Kamis, 3 April 2025 - 17:26 WIB

Polda Banten Terapkan Sistem One Way di Kawasan Wisata Anyer

Rabu, 2 April 2025 - 18:22 WIB

Mudik Idul Fitri: Lebih dari 2,1 Juta Kendaraan Keluar Jakarta

Rabu, 2 April 2025 - 16:28 WIB

Peringatan Cuaca: Hujan dan Gelombang di Pelabuhan Bakauheni

Rabu, 2 April 2025 - 16:18 WIB

Kecelakaan Tunggal Honda CRV di Tol Lampung

Berita Terbaru

Banten

Kolam Renang Saung Bu Nde Cikedal Ramai Pengunjung

Jumat, 4 Apr 2025 - 16:21 WIB

Banten

Pantai Pasput Cihara Terjerat Karcis Ilegal

Kamis, 3 Apr 2025 - 22:41 WIB

Rekomendasi HP Gaming Terbaik di Bawah 3 Juta, versi nusantara media

Teknologi

Rekomendasi HP Gaming Terbaik di Bawah 3 Juta di Tahun 2025

Kamis, 3 Apr 2025 - 21:38 WIB

Kepulauan Riau

Belasan Tahun Lampu Jalan Terabaikan di Desa Kualaraya

Kamis, 3 Apr 2025 - 21:33 WIB